Check this out if you want to speak in French just like Parisian
Check out French Sentences – Directions
October 12, 2009 by Widi ArirakaBelajar Bahasa Prancis Online
October 9, 2009 by Widi ArirakaTeringat dengan masa SMA dimana keinginan untuk belajar Bahasa Prancis melebihi niat untuk mengambil les Bahasa Inggris. Atas saran kakak perempuan yang sebelumnya mencoba belajar tapi kandas di tengah jalan, akhirnya saya mendaftarkan diri juga di Alliance Française de Denpasar. Saat itu tempat kursusnya masih di Jalan Diponegoro depan hotel melati, hanyalah rumah sewaan yang disekat-sekat menjadi ruang belajar tapi cukup nyaman dengan dibatasinya jumlah murid per kelas tidak lebih dari 10 orang. Sampai sekarang pun saya masih inget aroma Bayfresh Lemon yang fresh ditebarkan oleh sejuknya AC. Memang benar kata orang, jika ada niat dan kesungguhan apa pun bisa dijalankan. Beberapa kali pernah menjadi juara kelas karena meraih hasil ujian tertinggi tapi sayang semakin tinggi trimester, semakin susah pelajarannya dan semakin mahal harga kursusnya. Saya memutuskan untuk belajar dasarnya sampai di trimester 3 saja.
12 tahun berlalu, untungnya saat ini masih teringat beberapa hal dasar tentang Bahasa Prancis. Iseng browsing internet mencari video tutoring untuk belajar Bahasa Prancis gratisan di YouTube, akhirnya muncullah beberapa video yang sangat membantu saya mengingat pelajaran dulu. Latihan dasarnya benar-benar mirip dengan pelajaran yang pernah saya dapatkan. Sangat beruntung rasanya menemukan www.jefrench.com yang mengajarkan banyak hal dasar tentang Bahasa Prancis, mulai dari tulisannya sampai cara membacanya.
Dengan belajar online ini, saya merasa belajar 2 bahasa sekaligus karena tutornya mengajarkan dalam Bahasa Inggris sementara dia harus mengajarkan kita Bahasa Prancis.
Merci beaucoup JeFrench! J’ai apprendre le français maintenant.
The other way to earn money easily
May 7, 2009 by Widi ArirakaPanca Wali Krama di Besakih
April 21, 2009 by Widi ArirakaPanca Wali Krama, sekarang dikenal dengan Panca Bali Krama, upacara umat Hindu yang diadakan 10 tahun sekali di Pura Besakih, di kaki Gunung Agung, Karangasem.
Ribuan umat datang untuk menghaturkan doa setiap harinya, apalagi saat puncak acara saat purnama kadasa tanggal 9 April 2009, bahkan lebih dari ribuan rela antri sepanjang 5 km (ini tak terhitung dari parkiran ke puranya).
Meski saya bukan seorang rohis, tetap ada keinginan untuk ‘tangkil’ (maksudnya: datang untuk menghaturkan doa dan sembah kepada Tuhan). Kali ini saya memutuskan untuk pergi bersama seorang teman kantor, Wayan Tawan, satu-satunya orang yang antusias mendukung keinginan saya berangkat ke Besakih di malam hari sepulang dari kantor.
Jumat itu, jam 6 sore saya langsung mengisi perut di rumah sepulang kantor. Bayangkan jika tidak makan, apa yang terjadi dengan badan ini yang harus nyetir selama 2.5 jam (belum plus macet). Beruntung sekali punya ibu yang cekatan bisa membuat ’sodan’ (maksudnya: haturan buat sembahyang) dalam waktu sekejap. Tadinya saya nggak kepikiran untuk membawa ’sodan’ hanya canang saja sudah cukup. Tapi dengan adanya ’sodan’ instant ini, keinginan saya semakin mantap untuk sembahyang ke Besakih.
Nggak seperti yang saya duga, meskipun berangkat malam, tetap saja terjebak kemacetan yang cukup bikin kaki pegal mengatur keseimbangan gas dan kopling. Belum lagi hujan yang mengguyur sangat lebat, wiper mobil tercepat pun tidak terlalu berpengaruh untuk memandang mobil di depan yang lampu belakangnya (untung) hidup normal.
Hari itu benar-benar diberkati, saat banyak orang tidak boleh parkir di atas (area paling dekat dengan pura), saat itu saya dan rombongan berhasil memarkir mobil dengan cantik.
Ini pemandangan unik di malam hari, Pura Besakih yang biasanya sepi tapi saat perayaan ini begitu ramai tumpah ruah. Beruntung setiap masuk ke bagian pura kita tidak perlu antri. Mendengar logat dari orang-orang yang datang saat itu, bisa dipastikan mereka dari berbagai kabupaten. Bayangkan saja, saat saya yang mau balik ke Denpasar jam sekitar 00.30 WITA, di perjalanan menuju parkiran masih terlihat banyak sekali orang-orang baru datang untuk sembahyang. Saat itu terpikirkan bahwa, jika memang niat ada untuk Tuhan, apapun yang terjadi tidaklah menjadi masalah yang berarti.
One Evening with Mijn Schat en vrienden
October 13, 2008 by Widi Ariraka
Sore itu, 12 Oktober 2008, mendekati jam 3 sore, terhubung dengan Boim, seorang sahabat yang lagi gila dengan hobi fotografinya. Maksud undangan kali ini adalah mengajak saya ke Pantai Suluban di daerah Pecatu nun jauh disana. Rencana berangkat jam 4 sore untuk mengejar sunset, tapi apa mau dikata, dia baru menelpon saat saya sudah ada janji dengan kekasih hati ke bazaar anak SMA.
Setelah menghitung waktu, akhirnya saya mengiyakan mengingat kekasih hati pernah bilang ingin pergi ke daerah perbukitan tinggi macam Dream Land. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ke pantai yang konon sangat indah buat para peselancar, apalagi kekasih hati sedang libur. Tanpa banyak persiapan, berangkatlah kita dengan motor ke daerah Pantai Suluban melewati jalan raya Uluwatu.
Ternyata di tengah-tengah padang gersang yang tandus, masih ada beberapa tanaman yang berdaun hijau bahkan rerumputan segar menemani perjalanan kita yang panjang dan hampir tak bertepi, sampai akhirnya melihat parkiran yang dipenuhi motor dan mobil pengunjung pantai.
Pertama kali melihat pantai dari arah atas bukit, sudah bisa saya bayangkan bagaimana pemandangan di bawah sana. Ekspresi muka ‘Mijn Schat’ juga tampak berbinar, dia tidak menyangka ada tempat seindah ini di Bali.
Beruntung sekali kita datang saat cuaca bagus, meski langit tidak total biru tapi matahari masih tampak bagus di antara awan-awan putih. Kami bisa melihat dengan jelas ombak bergulung, terpecah di pinggiran pantai yang semuanya berkarang. Tepiannya yang masih berpasir bercampur karang putih memantulkan cahaya matahari sore berlapis warna biar muda air yang tersapu ke pesisir. Indah sekali!!!
Untung saya membawa kamera saku, meski tidak secanggih kamera Boim dan Suma, beberapa hasil foto yang saya dapatkan cukup bagus juga. Pemandangan indah ini menambah kesan romantis saat saya mengambil foto berdua dengan ‘mijn schat’ kekasih hati. Beberapa kali adegan kami terpotret oleh kamera Boim dan Suma, tapi saya pikir mereka juga sebetulnya memerlukan obyek seksi untuk fotonya.
Moment paling romantis adalah saat sunset tiba. Kita duduk di bale-bale atas bukit, memandang ke arah lautan lepas, beberapa surfer masih menunggu ombak, sementara lainnya siap-siap dengan kamera mengabadikan pemandangan terindah sore itu. Saya duduk tepat di sebelah ‘mijn schat’, dia menyalakan sebatang rokok kemudian melingkarkan tangannya ke bahu saya. Kami berdua tetap memandang ke arah pantai seolah-olah tidak mau melewatkan sedetikpun apa yang terjadi nun jauh di sana. Sepertinya saat itu kami tidak kekurangan apapun, tenang, bahagia, damai… Saya cium kening dan pipinya, dia membalas dengan senyum sambil mengelus-elus rambut saya. Haaaaah… what a wonderful world!!!!
as the dusk fell down, we went back home. Angin malam bersaing dengan hangat pelukannya, sepi tersapu oleh tawa riang hati kita. Malam itu kita akhiri dengan makan bersama di sebuah warung sepi tanpa ada anak-anak SMA yang mengadakan bazaar itu. What a beautiful night to remember.
Mini Apple from Red Chinese Candle
October 10, 2008 by Widi ArirakaHari itu 8 Oktober 2008, aku cukup disibukkan dengan urusan kantor, harus ke proyek setelah siaran dan miting sore harinya. Di tengah kesibukan itu yang ada di pikiranku hanyalah apel merah, bagaimana aku bisa membuat apel merah.
Flash Back ke hari pertama lebaran dimana aku menemani seseorang yang menarik hatiku bekerja di malam hari. Di siarannya aku mendengar materi tentang kebiasaan orang Yunani menggunakan buah apel merah untuk menyatakan cinta. Jika orang yang disukainya menanggkap apel merah yang dilemparkannya, itu pertanda bahwa tanda cintanya diterima. Saat itu juga aku berpikir untuk melakukan hal yang sama.
Pertemuan berikutnya, kita menonton Laskar Pelangi (buat aku ini kedua kalinya, bela-belain nonton lagi demi bertemu dengannya). Aku sudah mempersiapkan apel merah washington satu-satunya yang tersisa di kulkas. Maksud hati memberikannya sepulang dugem, tapi aku ternyata tidak punya keberanian. Sampai akhirnya buah apel itu kubawa pulang, kutaruh di atas meja, dan keesokan harinya sudah hilang dilarikan oleh keponakanku.
Cerita gila itu kusampaikan dalam sepucuk surat padanya. Pertemuan berikutnya dia hanya bertanya: “bawa buah apel lagi ngga? itu kan buat aku.” Aku hanya bisa tersenyum dan menjanjikan akan memberikan yang lain saja.
Malam itu masih tanggal 8 Oktober 2008, aku mengajaknya makan malam bersama kakak angkatku. Kami bertiga melewati malam dengan sate padang jalan Legian. Otakku tapi masih berputar memikirkan lilin merah keras yang bisa kuubah menjadi sebuah apel.
Harapanku bersambut setelah menemukan sepasang lilin merah (menurut seorang temanku, lilin itu dipakai untuk pemujaan roh untuk datang), kucoba iris tepinya dengan kuku untuk memastikan warnanya seragam.
Mulailah eksperimenku mengukir lilin di kantor program sambil menghabiskan waktu menemaninya siaran. Dengan bantuan Kakatua (sebutan sayangku untuk kakak angkat), aku membelah lilin itu, mengirisnya, mencongkel sampai benar-benar terbentuk apel merah mungil. Jika tertarik menyimak tahap-tahap pembuatannya, silakan kunjungi link http://widi.multiply.com/photos/album/22/Red_Apple_voor_mijn_Schat
Tidak lebih dari 1 jam 45 menit, apel itu sudah tertata rapi lengkap dengan surat cinta kedua dariku. Pagi buta saat aku mengantarnya pulang, kuberanikan diri untuk mempersembahkan tanda cinta yang kubuat dengan sepenuh hati itu.
Pagi buta, 9 Oktober 2008, menjadi hari sejarah di kehidupan cintaku yang baru bersama seseorang yang sederhana tapi berbakat, seseorang yang penuh kasih dan sayang, perhatian dan bisa menerima aku apa adanya. Ik houd van jou, mijn Schat…
P.S. Kita bisa mewujudkan apapun yang kita mau asalkan penuh dengan keyakinan dan usaha. I am not a carver but I can be the one who can carve the candle become a red apple. And for sure, you can do the same way too.
DJ Delizious Devina
August 10, 2008 by Widi ArirakaSemua info tentang DJ Delizious Devina bisa dilihat di www.myspace.com/deliziousdevina.
Sedikit cerita dari event “Femme Line” di Deja’vu dan “Outland” di 66. Untuk pertama kalinya DJ Devina marathon di dua tempat berbeda di Bali dalam satu hari, kemarin, Sabtu, 9 Agustus 2008. Bisa bayangkan bagaimana energinya untuk tampil di dua tempat yang memang punya konsep berbeda. Di Deja’vu maen jam 1 kemudian lanjut jam 3 maen di 66 Club.
DJ Devina kali ini ditemani seorang MC cewek yang sama waktu sebelumnya maen di Dee Jay Club (waduh saya nggak tahu namanya siapa). MC ini cukup bisa memancing crowd yang sepertinya memang sudah menunggu-nunggu penampilan DD. Menurut saya (yang tidak terlalu tahu genre musik dance), dia tidak hanya fokus memainkan satu jenis genre saja, diantaranya yang saya dengar macam House, Progressive campur elektro dikit. Beberapa hits yang dibawakan memang bisa diikuti oleh crowd, yang paling jelas waktu DD memainkan Apologize, I Need a Miracle dan Show me love. Awalnya saya hanya melihatnya dari kejauhan karena depan booth DJ sudah dipenuhi clubbers. Tapi begitu MC bilang mau bagi-bagi CD, langsung bela-belain menyelipkan badan di antara clubbers yang semuanya ingin sekali punya sample remixnya DD. Sayang sekali saya hanya kebagian pin. Tapi pin itu cukup menghibur karena dari awal saya memang suka sekali dengan simbol DD, centaur memegang anak panah dengan satu kepalan tangan (mirip lambang zodiac saya!).
Perjuangan saya mendapatkan CD promonya tidak berakhir. Waktu DD turun dari booth DJ melewati crowd (melintaslah dia di depan saya), saya bilang: “hey devina!”, dia memandang saya dan bilang “hey, double six ya…” OK 66! C u there!
66 Club tidaklah begitu jauh dari Deja’vu, cukup berjalan kaki beberapa meter, sudahlah sampai kita ke club yang bersebelahan dengan Bacio dan Syndicate. Tidak begitu lama setelah DD dan MCnya pergi ke 66, saya menyusul dengan harapan DD akan bagi-bagi CD lagi.
Di 66 Club, DD memainkan beberapa lagu yang memang sudah dibawakan di Deja’vu. Kalau melihat crowd yang datang di 66 Club, beberapa adalah clubbers yang tadinya ada di Deja’vu. Kali ini saya langsung mengambil posisi di dance floor tepat di depan booth DJ. Dugaan saya benar, MCnya DD membagikan lagi CD Promo dan saya berhasil merebutnya dari tangan seorang laki-laki yang tadinya hampir berhasil mendapatkan CDnya.
Banyak kata yang bisa menggambarkan penampilan DD pagi itu, tapi satu kata yang bisa mewakili semuanya adalah KEREN! Great Music, Beautiful Packaging, Awesome and attractive performance. She’s so damn very gorgeous!!!!!!!!
Sepanjang jalan, dengan telinga masih berdengung-dengung, begitu jelas melekat dua kali penampilan DD. Begitu sampai di rumah, langsung CD Promonya saya putar. Menurut telinga saya (yang bukan seorang DJ), di CD Promonya ini DD masih memainkan House, Progressive dan kali ini cukup jelas banyak Electro nya.
Tak sabar menunggu penampilannya di Deja’vu lagi tanggal 13 Agustus 2008 dan di Cosmo tanggal 14 Agustus 2008. DELIZIOUS DEVINA WIL ROCK YOU!!!!!
Trik Meloloskan Kamera Saat Nonton Konser
August 6, 2008 by Widi ArirakaAda banyak cerita waktu nonton konser Alicia Keys waktu Kamis lalu tanggal 31 July di JCC, Plenary Hall. Salah satunya adalah bagaimana cara kita meloloskan kamera yang memang dilarang untuk dibawa pada saat nonton konser. Aturan itu sudah sangat jelas tercantum di tiketnya bahwa, tidak diperkenankan membawa senjata tajam, drugs, termasuk juga kamera.
Saking niatnya untuk foto-foto (ceritanya buat dipamerin ke temen-temen), dengan nekadnya kita memasukkan kamera dengan satu trik yang jitu. Mungkin bisa dicoba buat yang mau nonton konser besar nanti. Mari ikuti caranya:
Bawalah tas yang bisa memuat jaket. Kemudian kamera kita bungkus dengan menggunakan jaket ini. Alasan pertama adalah, agar kamera tidak terlihat saat tas dibuka, selain itu juga saat petugas peraba-raba dan mencengkeram tas dari luar, kamera ini tak tertangkap lekuk bentuknya.
Ingat, pelajari teknik mengambil jaket saat adanya pemeriksaan yaitu dengan mencengkeram kamera yang ada di dalam jaket pembungkus, jadi seolah-olah saat petugas pemeriksaan melongok ke arah tas, kamera sudah lenyap karena terangkat bersama dengan jaket. Berarti, saat pemeriksaan, jangan biarkan tangan petugas masuk mengaduk-aduk tas kita duluan, harus kita yang inisiatif mengambil jaket untuk memudahkan petugas melirik ke arah dalam tas.
Tapi jika sekiranya teknik itu agak ribet dan anda bukan tipe pesulap yang memungkinkan karema ini nantinya jatuh saat jaket dikeluarkan, cobalah menaruh barang yang haram dipegang oleh laki-laki (biasanya petugas pemeriksa tas adalah laki-laki). Contoh barang-barang yang males banget dilihat apalagi dipegang laki-laki adalah pembalut! Ya, letakkanlah satu pembalut tipis utuh ini tepat di atas jaket, jadi begitu tas terbuka dan kita mempersilakan dia untuk merogoh tas, si petugas pasti akan langsung menutup lagi tas kita dan mendorong ke arah kita alias LOLOS!!!
Trik ini sangat ampuh buat perempuan-perempuan narsis yang ingin membawa kamera saat konser. Buat kaum laki-laki, nggak mungkin membawa pembalut? serahkan semuanya pada pacar anda, makanya pergi nonton konser diajak dong pacarnya!
Jangan bangga dulu saat berhasil meloloskan kamera, biasanya panitia pasti menebar mata-mata untuk menyita kamera. Mawaslah dengan linkungan, saat mau jepret-jepret pastikan di sekitar kita tidak ada mata yang mengawasi. Jangan buru-buru mengambil foto dalam satu waktu, itu memungkinkan panitia bisa menangkap cahaya blitz kamera kita arahnya dari mana. cukup memotret sekali dalam 30 menit.
Thanks to Ika Prasetyo yang sudah membantu merapikan isi tas saya sebelum melewati petugas pemeriksaan. Maklum jeng, waktu itu lagi riweh telponan buat live report. Sampaikan ucapan terima kasih saya pada Mas Oky yang sudah memfoto kita di red carpet.
Tukang Jahit Macho
July 26, 2008 by Widi ArirakaMengingat harga pakaian makin menlonjak bersaing dengan harga sembako, banyak alternatif yang dijalani untuk tetap bergaya dengan baju-baju berkualitas. Misalnya adalah dengan membuat baju dengan membeli bahan sendiri dan mencari tukang jahit terjangkau. Atau bisa juga belanja di big sale, and thanks God di bali banyak sekali ada brand surf wear yang sale gila-gilaan.
Jumat kemaren tumben menggila membeli ini itu berhubung ada beberapa party yang harus didatangi. Prediksi belanja cuma 100ribuan (karena belanja di Big Sale) tapi malah membengkak jadi 300ribuan. Ternyata naluri belanja seorang wanita masih ada di dalam diri ini. Singkat cerita ada 2 item yang harus saya permak demi selera, diantaranya celana jeans yang kepanjangan (yeah surf wear ini biasalah ukurannya pakai standar bule) dan satu lagi kemeja dengan logo surf wear yang sangat mengganggu pemandangan. Saat itu juga sepulang belanja saya putuskan pergi ke tukang jahit langganan. Eh ternyata, tukang jahitnya sudah raib (katanya langganan tapi kok nggak pernah tahu dia ada dimana ya?hihihii… )
Tukang jahit yang direkomendasikan kakak perempuan saya ini memang masih di daerah Sanur, jadi dekat dengan rumah. Bayangan pertama adalah dia seorang laki-laki yang sangat memperhatikan penampilan, paling tidak dia punya gaya yang khusus. Kalau pun tidak putih tapi paling tidak dia bersih. Tapi ternyata…
Denk donk… Perawakannya kurus, tidak memakai baju sehingga banyak tato terlihat di punggung, lengan kiri dan kanan, dadanya ada bekas luka (entah itu carakan atau sayatan benda tajam). Dia hanya memakai jeans belel melorot dengan celana dalam menyembul di pinggangnya. Kepala dengan rambut cepak, tatapan muka serius dan logat bahasa laki-laki cuek. Ditemani dengan dua anaknya yang masih kecil, dia menyelesaikan rok putih bahan bermote sambil mendikte anaknya belajar menulis.
Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Baru kali ini melihat tukan jahit yang bergaya preman tapi dengan kualitas jahitan yang bagus. Lalu pikiran futuristik ini berbisik, dulu itu dia adalah preman yang pernah berkasus sampai masuk penjara. Lalu di penjara dia diberikan pelatihan yang berguna seperti belajar menjahit. Setelah keluar dari penjara dia kapok dan memutuskan untuk berwira usaha. Jadilah dia tukang jahit macho “Hendra”
Silakan dikunjungi di jalan Sekuta, Sanur, ada plank namanya tukang jahit “Hendra”, di depannya ada mini market. Sebagai gambaran harga, untuk permak celana jeans dan celana bahan, masing-masing hanya 5000 rupiah saja.
Kenakalan Masa Kecil
July 8, 2008 by Widi ArirakaSangat beruntung dianugerahkan otak yang cukup awet untuk mengingat kebadungan masa kecil. Saya bersyukur menjadi anak yang nakal, bukan jahat, aktif bukan hiperaktif. Saking kreatif dan sukses menerapkan ilmu yang diserap di sekitar, akhirnya merepotkan orang-orang rumah.
Memanah Buah pisang tetangga : bagaimana pun juga kehadiran seorang kakak sangat berperan dalam perkembangan hari-hariku. Kakak terdekatku laki-laki yang umurnya beda 5 tahun denganku. Dia mengajarkan banyak hal termasuk bagaimana membuat layangan dari tas plastik, main gundu, main petak umpet, menaikkan layangan dan main panah-panahan. Selama dia bersekolah SD, aku menghabiskan waktu sendirian menerapkan ajarannya. Kadang membuat kait pancingan dari peniti disambung dengan benang dan lidi, kadang main panah-panahan dengan lidi yang ditarik pakai karet gelang di regangkan diantara ibujari dan telunjuk. Hari itu hampir setengah sapu lidi kuhabiskan untuk memanah pisang tetangga yang masih berwarna hijau. Kebetulan buahnya lebat dan terlihat ada di balik tembok tinggi. Mungkin ada bakat jadi pemanah ya, semua lidi-lidi sapu itu tertancap pas di buah pisang. Sudah puas, kutinggalkan begitu saja. Sampai akhirnya sekitar 3 hari kemudian, aku dengar ibu ribut-ribut mengajak bapakku mengambil tangga monyet untuk memanjat tembok tetangga. Saat aku intip, mereka sibuk mengambili satu-satu lidi yang tertancap di pohon pisang itu. Bapakku dengan sarungnya seperti orang yang mau mencuri pisang, sementara ibu menunggunya di dekat tembok sambil mengumpulkan lidi-lidi itu. Tanpa merasa bersalah aku hanya bilang, apa yang kulakukan diajarkan oleh kakakku. Saat pisang-pisang itu matang menguning berbekaslah totol-totol hitam sisa tancapan lidi-lidi panahku. Syukur kepada Tuhan, aku punya orang tua yang sabar, tidak melarangku bermain ini itu dan tidak pernah marah dengan kenakalan yang kulakukan. TIdak pernah satu pun kata-kata kasar keluar dari mulut mereka, apalagi hantaman genggaman tangan atau tapak jari-jari yang menempel di pipiku, tidak pernah sama sekali.
Teknik Membakar Sampah: Meski sekarang sering bertengkar dengan kakak laki-lakiku, tapi aku tetap beruntung memiliki dia yang mengajarkan banyak hal. Tidak hanya bermain, tapi juga belajar. Bayangkan, belum SD pun aku sudah diajarkan bagaimana cara mencangkok batang bunga kembang sepatu. Caranya, kupas batangnya, ambil tanah yang subur, dipercikkan air kemudian ditampolkan di batang pohon itu lantas diiket deh pakai plastik dan tali rafia. Ada lagi teknik mambakar sampah yang aku perhatikan sejak TK. Dia mengumpulkan sampah-sampah seperti janur bekas upacara, daun-daun rontok dan dahan-dahan kering. Dia bilang, kalau mau cepet bersihkan sampah, bakarlah sampah yang kering biarkan yang masih hijau dan basah. Teori itu selalu kuingat dan kuterapkan sendiri. Saat pergi belajar kelompok, lagi-lagi aku bermain sendiri di merajan (pura keluarga di rumah). Kuperhatikan tanaman bunga kepunyaan ibu yang baru saja diminta dari tetangga. Sudah dipindahkan dari pot dan disiram tapi beberapa daunnya rontok dan kering dahannya. Itu biasa terjadi pada tanaman yang baru mendapat tempat baru. Nah, muncullah niatku untuk membersihkan halaman. Saat itu juga kuambil korek, kubakar daun-daun dan ranting kering yang masih bertengger di pohonnya. Kubiarkan dedaunan yang masih hijau dan muda. Senang rasanya berhasil memusnahkan daun kering itu dan membiarkan pohon itu dengan daun-daun muda. Keesokan harinya, ibuku marah-marah lagi memanggil kakakku dengan tuduhan pembakaran pohon bunga. Hahhahaaa… aku datang dan mengaku bahwa akulah pelakunya. Tetap ibuku tidak marah, dia sangat memaklumi niat baikku untuk bersih-bersih disana dengan membakar daun-daun dan dahan kering padahal itu bisa membuat panas pohon induknya sehingga mati keesokan harinya.
Jadi Tukang Salon: korban berikutnya adalah kakek dan nenekku. Kakekku orang yang trendi, tidak pernah membiarkan rambutnya gondrong tapi memelihara kukunya sampai melingkar. Seandainya saat itu ada jasa meni-pedi di pantai sanur, pasti dia sudah ngacir setiap minggu ke sana. Suatu hari dia membelai-belai rambut putihnya, duduk termenung di teras kamarnya sambil menunggu kedatangan kakak perempuanku. Aku bertanya dia mau apa, dia hanya menjawab mau potong rambut jadi pendek seperti tentara. Pergilah aku mengambil gunting karena kupikir apalah susahnya memotong rambut jadi pendek. Tanpa banyak Babibu, kakekku pasrah dipotong rambutnya. Ingat sekali waktu itu aku pakai gunting panjang besi-stainless yang ada tangkai kecil di lubang tempat jempol bertengger. Tak lama kuperhatikan, kenapa kepala kakekku mirip sawah bertingkat-tingkat. Ternyata susah juga meratakan rambutnya. Sampai akhirnya datang kakakku dengan mukanya yang terkaget-kaget, tapi tidak berani berteriak di mukaku. Dia membereskan rambut kakekku hingga pendeknya hampir satu senti saja. Tercapai juga keinginan kakekku punya rambut kayak tentara, hampir plontos. hehehee…
Tukang Salon Part2: nenekku rambutnya panjang, dia suka sekali kalau rambutnya kusisir. Tidak pernah komplain kalau agak keras tertarik karena kusut, dia tetap anteng membiarkan aku menyibak rambutnya yang bercampur putih dan hitam. Aku iseng bertanya, maukah rambutnya kukeriting. Kalau melihat dari sepupu yang waktu itu masih tinggal satu halaman denganku, mereka cukup memakai roll dan sisir gulung. Nah, berhubung aku tidak punya sisir gulung, sisir biasa pun jadi, toh sama-sama namanya sisir. Mulailah aku menggulung rambut panjangnya dan VOILA!! tidak bisa kembali saudara-saudara. Rambut panjangnya hampir setengah terbelit di sisir dan kusut. Sisir itu nyantol berjuntai di rambutnya, sementara aku hanya bisa memandang dan menunggu bapakku datang. Melihat kondisi nenekku diam tak berdaya dengan rambut kusut, dia mengambil gunting dan mencukur bagian kusut yang terbelit sisir. Lagi-lagi aku pergi ngeloyor begitu saja tanpa ada omelan dan cacian kasar dari nenek atau bapakku.
Betapa beruntungnya aku ada di keluarga tanpa kekerasan. Aku tumbuh menjadi anak cerdas yang belajar dari lingkungan. Sampai detik ini pun aku tetap percaya bahwa tumbuh dan berkembang dengan kemauan sendiri dengan belajar dari alam dan pengalaman adalah cara belajar yang terbaik. Tulisan ini kupersembahkan kepada Bapak di sorga, ibu, kakak-kakakku dan sekeliling yang membentukku menjadi seperti sekarang. Aku bukan orang hebat yang punya prestasi membanggakan, tapi paling tidak aku bisa merasakan bangganya menjadi orang yang memiliki masa kecil luar biasa.







